Hari ini aku pulang petang, menyelesaikan tugas yang
harus diselesaikan tepat hari ini juga. Sebut saja aku Felly, gadis yang pernah
memiliki kelainan. Bukan kelainan secara fisik, namun bisa dibilang kelainan
mental. Dulu aku adalah seorang indigo. Dimana aku bisa melihat dan berbicara
langsung dengan arwah. Beruntung menginjak usia lima belas tahun hingga
sekarang kelainan itu tidak lagi mengganggu mentalku yang sempat down. Aku
sembuh melalui perantara psikiater.
Dengan langkah ringan aku berjalan menuju tempat
parkir di halaman belakang sekolah. Saat hendak keluar dari tempat itu,
langkahku terhenti ketika melihat seorang perempuan yang kutebak sebagai kakak
kelasku dengan rambut sebahu tengah menunduk di dekat bak penampung sampah.
Tertarik dengan apa yang Ia lakukan, kulangkahkan kakiku dan meninggalkan
sepedaku yang hendak kunaiki. Semakin dekat dengannya, aku mendengarnya
menangis dan aroma busuk mulai menggelitik hidung. Kutelan ludahku sebelum
mengajaknya berbicara.
“Permisi, Kak. Apa yang sedang kau lakukan? Tidak
pulang?”. Tanyaku. Perempuan itu berhenti menangis. Mengangkat kepalanya dan
menolehkan kepalanya secara perlahan.
“Kau, bisa melihatku?”. Tanyanya balik membuatku
tercengang. Apakah aku kembali sebagai indigo?. Mencoba menampik kemungkinan
buruk yang ada, kucoba memperhatikan perempuan itu dari kepala hingga ujung
kakinya. Dan aku menjerit ketika melihat bagian perutnya yang terkoyak. Dengan
hati yang berbelatung dan usus yang menggantung siap jatuh kapan saja. Kututup
mulutku saat rasa mual menyerang. Aku tidak mungkin menjadi indigo lagi. Dan
tanpa pikir panjang, aku berniat lari dan segera pulang. Namun niatku tidak
tercapai ketika Ia menangis pilu membuat hatiku terenyuh. Kubalikkan badanku
dan menatapnya yang tengah menangis. Dengan langkah ragu, kudekati lagi
perempuan itu.
“Apakah aku bisa membantu?”. Entah kenapa aku
menyesali tawaran yang begitu saja terucap. Perempuan itu tidak menjawab, Ia
berjalan menuju bak penampung sampah dan menunjuk sebuah tanaman yang tumbuh di
dalamnya.
“Tolong, bayiku ada di dalam sana. Ia dikubur oleh
ayahnya sendiri. Kumohon, biarkan kami bersatu lagi dan aku berjanji tak akan
muncul lagi”. Ucapnya penjang lebar membuat bulu kudukku semakin berdiri.
Tubuhku mulai gemetaran dan berkeringat dingin. Apa yang Ia katakan? Bayinya
terkubur disana? Mungkinkah Ia korban pembunuhan bulan lalu?. Batin dan otakku
mulai berdebat memungkinkan segala dugaan yang ada.
Perempuan itu menghilang menyisakan isakkan tangis
yang pilu. Aku jatuh terduduk. Bingung apa yang harus kulakukan. Haruskah aku
mengabaikan perkataannya dan dihantuinya yang meminta bantuanku atau mencoba
menenteramkan arwahnya dan aku tidak akan menjadi indigo yang dijauhi orang
awam.
“Siapa disana?”. Kudengar suara seorang laki-laki
dan cahaya senter yang mengarah kearahku. Saat laki-laki itu tepat di
hadapanku, barulah aku tahu bahwa dia adalah penjaga sekolah.
“Sudah malam, kenapa kau belum pulang?”. Tanya
penjaga sekolah itu. Aku menjelaskan yang baru saja terjadi. Meskipun awalnya
beliau menyangkal aku seorang indigo, namun akhirnya beliau percaya dan
setelahnya aku pulang.
Pagi harinya, saat jam istirahat penghuni kelas
berbondong menuju halaman belakang ketika ditemukan orok bayi membusuk yang
kepalanya hanya tinggal separuh karena diselimuti belatung. Beberapa polisi
mengamankan TKP dan melakukan penyelidikan. Dan setelah ditelusuri lebih
lanjut, rupanya orok itu merupakan bayi usia enam bulan kandungan. Dimana itu
merupakan hasil hubungan gelap yang berakhir pembunuhan di sekolah beberapa
minggu lalu. Korban yang ingin mempertahankan buah hatinya meminta sang
laki-laki untuk bertanggung jawab. Namun karena tidak bersedia, akhirnya
perempuan itu dibunuh oleh laki-laki itu dengan membelah perutnya. Menyadari
dirinya terancam hukum, laki-laki itupun bunuh diri setelah sebelumnya
memisahkan orok dengan ibunya. Penjaga sekolahpun berterimakasih atas informasi
yang aku berikan meski polisi awalnya juga memberi respon yang sama.
Aku merasa sedikit lega karena akhirnya indigoku
berguna juga. Saat hendak pulang, di tempat pembuangan sampah kulihat perempuan
itu tengah menggendong seorang bayi mungil. Perempuan itu seolah mengucapkan
terimakasih padaku sebelum akhirnya lenyap terbawa hembusan angin.
PS: FlashFiction ini sudah diikutsertakan dalam lomba Kisah Horror di Sekolah dan diterbitkan dalam buku Scream School seri pertama oleh penerbit MMJN.