W.K-DRAMA: (Flash Fiction) I N D I G O

Minggu, 21 September 2014

(Flash Fiction) I N D I G O



Hari ini aku pulang petang, menyelesaikan tugas yang harus diselesaikan tepat hari ini juga. Sebut saja aku Felly, gadis yang pernah memiliki kelainan. Bukan kelainan secara fisik, namun bisa dibilang kelainan mental. Dulu aku adalah seorang indigo. Dimana aku bisa melihat dan berbicara langsung dengan arwah. Beruntung menginjak usia lima belas tahun hingga sekarang kelainan itu tidak lagi mengganggu mentalku yang sempat down. Aku sembuh melalui perantara psikiater.
Dengan langkah ringan aku berjalan menuju tempat parkir di halaman belakang sekolah. Saat hendak keluar dari tempat itu, langkahku terhenti ketika melihat seorang perempuan yang kutebak sebagai kakak kelasku dengan rambut sebahu tengah menunduk di dekat bak penampung sampah. Tertarik dengan apa yang Ia lakukan, kulangkahkan kakiku dan meninggalkan sepedaku yang hendak kunaiki. Semakin dekat dengannya, aku mendengarnya menangis dan aroma busuk mulai menggelitik hidung. Kutelan ludahku sebelum mengajaknya berbicara.
“Permisi, Kak. Apa yang sedang kau lakukan? Tidak pulang?”. Tanyaku. Perempuan itu berhenti menangis. Mengangkat kepalanya dan menolehkan kepalanya secara perlahan.
“Kau, bisa melihatku?”. Tanyanya balik membuatku tercengang. Apakah aku kembali sebagai indigo?. Mencoba menampik kemungkinan buruk yang ada, kucoba memperhatikan perempuan itu dari kepala hingga ujung kakinya. Dan aku menjerit ketika melihat bagian perutnya yang terkoyak. Dengan hati yang berbelatung dan usus yang menggantung siap jatuh kapan saja. Kututup mulutku saat rasa mual menyerang. Aku tidak mungkin menjadi indigo lagi. Dan tanpa pikir panjang, aku berniat lari dan segera pulang. Namun niatku tidak tercapai ketika Ia menangis pilu membuat hatiku terenyuh. Kubalikkan badanku dan menatapnya yang tengah menangis. Dengan langkah ragu, kudekati lagi perempuan itu.
“Apakah aku bisa membantu?”. Entah kenapa aku menyesali tawaran yang begitu saja terucap. Perempuan itu tidak menjawab, Ia berjalan menuju bak penampung sampah dan menunjuk sebuah tanaman yang tumbuh di dalamnya.
“Tolong, bayiku ada di dalam sana. Ia dikubur oleh ayahnya sendiri. Kumohon, biarkan kami bersatu lagi dan aku berjanji tak akan muncul lagi”. Ucapnya penjang lebar membuat bulu kudukku semakin berdiri. Tubuhku mulai gemetaran dan berkeringat dingin. Apa yang Ia katakan? Bayinya terkubur disana? Mungkinkah Ia korban pembunuhan bulan lalu?. Batin dan otakku mulai berdebat memungkinkan segala dugaan yang ada.
Perempuan itu menghilang menyisakan isakkan tangis yang pilu. Aku jatuh terduduk. Bingung apa yang harus kulakukan. Haruskah aku mengabaikan perkataannya dan dihantuinya yang meminta bantuanku atau mencoba menenteramkan arwahnya dan aku tidak akan menjadi indigo yang dijauhi orang awam.
“Siapa disana?”. Kudengar suara seorang laki-laki dan cahaya senter yang mengarah kearahku. Saat laki-laki itu tepat di hadapanku, barulah aku tahu bahwa dia adalah penjaga sekolah.
“Sudah malam, kenapa kau belum pulang?”. Tanya penjaga sekolah itu. Aku menjelaskan yang baru saja terjadi. Meskipun awalnya beliau menyangkal aku seorang indigo, namun akhirnya beliau percaya dan setelahnya aku pulang.
Pagi harinya, saat jam istirahat penghuni kelas berbondong menuju halaman belakang ketika ditemukan orok bayi membusuk yang kepalanya hanya tinggal separuh karena diselimuti belatung. Beberapa polisi mengamankan TKP dan melakukan penyelidikan. Dan setelah ditelusuri lebih lanjut, rupanya orok itu merupakan bayi usia enam bulan kandungan. Dimana itu merupakan hasil hubungan gelap yang berakhir pembunuhan di sekolah beberapa minggu lalu. Korban yang ingin mempertahankan buah hatinya meminta sang laki-laki untuk bertanggung jawab. Namun karena tidak bersedia, akhirnya perempuan itu dibunuh oleh laki-laki itu dengan membelah perutnya. Menyadari dirinya terancam hukum, laki-laki itupun bunuh diri setelah sebelumnya memisahkan orok dengan ibunya. Penjaga sekolahpun berterimakasih atas informasi yang aku berikan meski polisi awalnya juga memberi respon yang sama.
Aku merasa sedikit lega karena akhirnya indigoku berguna juga. Saat hendak pulang, di tempat pembuangan sampah kulihat perempuan itu tengah menggendong seorang bayi mungil. Perempuan itu seolah mengucapkan terimakasih padaku sebelum akhirnya lenyap terbawa hembusan angin.


PS: FlashFiction ini sudah diikutsertakan dalam lomba Kisah Horror di Sekolah dan diterbitkan dalam buku Scream School seri pertama oleh penerbit MMJN.

1 komentar: